TIMES MAGETAN, JAKARTA – Pada Olimpiade Tokyo 1964, publik Jepang dan dunia dibuat tertegun oleh seorang atlet yang belum pernah mereka kenal. Ia bukan unggulan, bukan kandidat peraih medali, dan bahkan finis jauh di belakang peserta lain. Namun kegigihannya membuat ribuan penonton bersorak seakan mendukung atlet negaranya sendiri.
Dialah Ranatunge Karunananda, pelari jarak jauh asal Ceylon (kini Sri Lanka) yang turun pada nomor 10.000 meter putra. Saat lomba berlangsung di Stadion Nasional Tokyo, ada 9 pelari yang menyerah tidak melanjutkan lomba dan Karunananda tertinggal hingga satu putaran penuh. Ketika pelari terakhir yang diperkirakan menutup lomba melewati garis finis, banyak yang mengira balapan telah selesai. Namun Karunananda tetap berlari.
Di tengah ejekan yang kemudian berbalik menjadi tepuk tangan dan sorak penyemangat, ia menahan rasa sakit dan terus memaksakan langkah sampai garis akhir. Sekitar 70.000 penonton berdiri memberi tepuk tangan panjang. Peristiwa itu menciptakan figur baru di Olimpiade Tokyo, yang kemudian dikenal di Jepang dengan sebutan “Nomor 67.”

Dikutip dari japan-forward.com, cerita tentangnya begitu menyentuh hingga masuk dalam buku pelajaran sekolah dasar di Jepang pada era 1970-an, dan sejak 2016 juga muncul dalam buku pelajaran bahasa Inggris untuk siswa SMP. Media Sri Lanka pun kembali mengangkat kisah tersebut setiap kali Olimpiade Musim Panas digelar.
Karunananda pernah berkata bahwa ia berlari hingga akhir karena ingin pulang dengan martabat: “Saya punya seorang putri kecil di rumah. Ketika ia dewasa nanti, saya ingin bisa berkata bahwa ayahnya pergi ke Olimpiade Tokyo dan tidak menyerah, meski kalah.”
Meski sempat sakit menjelang perlombaan, ia menganggap menyerah bukan pilihan, sebab keikutsertaan atlet Ceylon kala itu menjadi beban finansial besar bagi negaranya yang tengah terhimpit masalah ekonomi. Baginya, menyelesaikan lomba adalah bentuk tanggung jawab.
Sepuluh tahun setelah Olimpiade, Karunananda meninggal akibat kecelakaan di air pada usia 38 tahun. Namun kisahnya tak pernah benar-benar hilang. Kini, lima dekade lebih setelah momen tersebut, cucunya, Oshadi Nuwanthika Halpe, bekerja di Jepang sebagai tenaga perawatan lansia. Ia menyebut Jepang sebagai “tanah air kedua” dan tumbuh dengan cerita tentang sang kakek yang diajarkan untuk menuntaskan apa pun yang telah dimulai.
Kisah Karunananda menjadi salah satu narasi terkuat bahwa dalam kompetisi olahraga, kekalahan pun dapat menjadi kemenangan — terutama jika keberanian dan keteguhan adalah pemenangnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Olimpiade Tokyo 1964: Kisah Pelari yang Kalah, Tapi Menang di Hati Penonton
| Pewarta | : Wahyu Nurdiyanto |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |